Alumni Unibraw Malang Temukan Benih Padi IIRI 400 panen mencapai 14 ton sampai dengan 20 ton per hektare
Alumni Unibraw Malang Temukan Benih Padi IIRI 400
Nusantara / Senin, 8 Februari 2010 08:01 WIB
Metrotvnews.com, Malang: Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur (Jatim) berhasil menemukan varietas lokal padi yang memiliki produktivitas atau potensi hasil panen mencapai 14 ton sampai dengan 20 ton per hektare (ha). Varietas padi nonhibrida itu bernama IIRI 400 (Indonesia Inovasi Ridho Ilahi).
Banyaknya gabah kering sawah yang dihasilkan varietas baru padi tersebut dapat dikatakan fantastis.
Mengingat padi hibrida yang selama ini diunggulkan pemerintah hanya mampu menghasilkan 9 ton sampai dengan 12 ton per ha.
"Penelitian varietas padi yang kami berinama IIRI 400 ini dilakukan sejak tahun 2000," tegas Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Pertanian Organik Malang, DR Ir Haryadi kepada Media Indonesia, Minggu (7/2).
Saat panen perdana di Desa Tambak Asri, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Haryadi membuktikan dihadapan puluhan petani dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Malang Raya, Bambang DH Suyono, dengan menimbang langsung hasil panen yang akhirnya diketahui mencapai 14,5 ton per ha.
Sejauh ini tahap uji coba sudah dilakukan di Banyuwangi, Malang, Blitar Jawa Timur dan Kerawang Jawa Barat. Hasilnya cukup menggembirakan yakni rata-rata potensi hasil mencapai 14 ton per ha. Sedangkan uji coba di Kerawang mampu menghasilkan 20 ton per ha. "Banyak petani heran dan mempertanyakan benih padi dan orang yang mengembangkan varietas ini," tegasnya.
Selain memiliki produktivitas tinggi, benih padi IIRI 400 memiliki keunggulan berumur 100 hari. Agak tahan terhadap hama penyakit diantaranya penggerek batang, sundep dan wereng. Bulir padi di tiap tangkai juga lebih banyak ketimbang padi varietas lain. Satu hektare lahan hanya butuh 50 kilogram benih dengan hasil panen maksimal mencapai 20 ton.
Benih padi ini cocok ditanam di daerah dataran rendah dan sedang dengan ketinggian 0-500 meter di atas permukaan laut. Ia menceritakan IIRI 400 berasal dari persilangan benih padi lokal Genjah Rawe dan Cempo.
Sementara itu penelitian ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan bahwa Indonesia memiliki lahan pertanian sangat luas, tanah subur dan petani yang giat bekerja. Namun, pemerintah selalu mengaku kekurangan beras guna memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga terpaksa harus impor beras.
Berawal dari keprihatinan tersebut, kemudian ia termotivasi melakukan penelitian secara mandiri melalui organisasi independen di Pusat Kajian dan Pengembangan Pertanian Organik Malang. Lembaga independen itu bergerak dalam bidang penelitian pertanian, berkantor di Jalan Soekarno Hatta No 21 Kota Malang.
Ketika penelitian memasuki tahap pengembangan, pihaknya mendapat kucuran dana sebesar Rp1 miliar dari FAO (Food and Agriculture Organization) yakni organisasi pangan dan pertanian dunia yang berkantor di Australia.
Haryadi mengaku menyelesaikan sarjana pertanian S-1 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya, dan menyelesaikan studi S-2 dan S-3 di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
Sejauh ini benih padi temuannya belum mendapat sertifikat pelepasan varietas dari pemerintah karena terkendala mahalnya biaya uji multi lokasi yang ditaksir mencapai Rp400 juta.
Itu sebabnya benih padi ini tidak bisa diperoleh secara bebas di pasaran. Petani hanya bisa mendapatkan benih IIRI 400 secara terbatas di lingkungan mereka sendiri.
"Kami masih mengajukan proposal agar segera disidang tim penilai dan pelepas varietas Departemen Pertanian," ujarnya. (MI/ICH)


Penampskan di persemaian/sebaran benih...
ReplyDeleteBstang padi kecil.
Daun kecil panjang..lemes...
Blm tau besok kalo dah di tanam...
Jarak tanam yang ideal berapa bos? Untuk IIRI?
This comment has been removed by the author.
ReplyDeletebibit iiri400 beli dimana
ReplyDeleteSaya bisa dapat genjah rawenya pak?
ReplyDelete